Sunday, February 28, 2010

Sekilas tentang energi panas laut (OTEC)

Ide pemanfaatan energi dari laut yang terakhir bersumber dari adanya perbedaan temperatur di dalam laut. Jika anda pernah berenang di laut dan menyelam ke bawah permukaannya, anda tentu menyadari bahwa semakin dalam di bawah permukaan, airnya akan semakin dingin. Temperatur di permukaan laut lebih hangat karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. Tapi di bawah permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis. Inilah sebabnya mengapa penyelam menggunakan pakaian khusus selam ketika menyelam jauh ke dasar laut. Pakaian khusus tersebut dapat menangkap panas tubuh sehingga menjaga mereka tetap hangat.
Lautan menyelimuti sekitar dua per tiga atau 70% dari permukaan bumi, dan secara terus menerus menerima panas melalui sinar matahari, hal ini menjadikan laut sebagai pengumpul dan penyimpan energi matahari terbesar didunia. Kira-kira seperempat dari 17 daya surya sebesar 1,7 x 10 watt yang mencapai atmosfer diserap oleh lautan. Laut mungkin dapat menjadi solusi untuk sebagian permasalahan dibidang energi mengingat laut adalah sumber energi yang dapat digunakan tanpa harus mengeluarkan biaya (membayar). Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) adalah teknologi untuk menkonversi energi termal yang ada pada laut akibat radiasi sinar matahari menjadi tenaga listrik, cara lain untuk memanfaatkan laut sebagai pembangkit listrik adalah memanfaatkan energi gelombang laut (ombak).
Energi yang di pancarkan matahari ke permukaan bumi pada saat matahari bersinar terik di perkirakan 1.000 watt per meter persegi. Dan seperti kita ketahui Bumi kita diliputi oleh lautan sekitar 70 %. Kira-kira seperempat dari 17 daya surya sebesar 1,7 x 10 watt yang mencapai atmosfer diserap oleh lautan. Oleh sebab itu lautan merupakan pengumpul energi yang maha luas. Temperatur di permukaan laut menjadi hangat dengan suhu kira-kira 27o C – 30o C karena panas dari sinar matahari diserap sebagian oleh permukaan laut. Semakin ke dalam energi matahari makin berkurang terserap sehingga di bawah permukaan, temperatur akan turun dengan cukup drastis dengan suhu kira-kira 5oC – 7oC pada kedalaman 500 -600 meter. OTEC dapat menghasilkan tenaga listrik secara signifikan apabila perbedaan antara temperatur permukaan laut dan temperature kedalaman laut mencapai 20°C (36°F), kondisi ini banyak terjadi di daerah tropis.
Jika selisih 200 C itu dimanfaatkan dengan suatu efisiensi efektif sebesar 1,2%, maka suatu arus air sebesar 5 m3/s akan dapat menghasilkan daya elektrik bersih dengan daya sebesar kira-kira 1 MW. Dapat dibayangkan bahwa ukuran yang besar sekali diperlukan untuk dapat membantu suatu PLT-PL yang besar. Sebab sejumlah arus air yang meliputi 500 m3/s yang akan diperlukan untuk dapat membuat suatu PLT-PL yang besar, misalnya 100 MW. Dengan demikian maka taraf efisiensi yang perlu diusahakan untuk ditingkatkan.
Para ahli di bidang energi percaya bahwa jika biaya pembangunan OTEC dapat menjadi kompetitif / bersaing dengan teknologi pembangkit listrik konvensional saat ini, OTEC dapat menghasilkan tenaga listrik dalam bilangan Gigawatt. Menjadikan biaya pembangunan OTEC bersaing masih menjadi tantangan yang berarti, karena saat ini pembangunan OTEC masih memerlukan biaya yang cukup mahal, dengan menggunakan pipa – pipa berdiameter besar yang dibenamkan sedalam 1 mil atau bahkan lebih untuk mengalirkan air dingin dari kedalaman laut menuju permukaan. Adapun proyek-proyek demonstrasi dari OTEC sudah terdapat di Jepang, India, dan Hawaii.

Pengenalan energi pasang surut

Jika ada suatu yang dapat diprediksi dan bisa dipastikan di planet ini, yaitu datang dan perginya, yaitu pasang surut. Pasang surut gelombang laut adalah salah satu bentuk energi yang dapat diperbarui (renewable) dan nyata keuntunganya jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya, yang sulit diprediksi, seperti angin dan energi cahaya matahari. Departemen perdagangan dan industri Inggris, telah menyatakan bahwa hampir 10 % dari masalah energi di Inggris, bisa diselesaikan dengan energi pasang surut gelombang laut.

Bagaimana pasang surut bisa terjadi? Hal ini berkaitan dengan adanya gaya gravitasi bulan dan matahari, dan juga gaya gravitasi yang ada di bumi. Gaya tarik gravitasi bulan dan matahari mempengaruhi pasang surut di bumi. Besarnya pengaruh gaya tarik ini dipengaruhi oleh massa matahari dan bulan, serta jaraknya dari bumi. Bulan memiliki pengaruh yang lebih besar pada pasang surut gelombang di bumi, karena meskipun massanya jauh lebih kecil dari matahari, tetapi jaraknya sangat dekat ke bumi sehingga pengaruhya lebih besar. Gaya gravitasi dari bulan menyebabkan lautan sedikit tertarik ke arah bulan. Lalu, karena bumi berotasi, akibatnya terjadi pasang naik dan pasang surut. Ketika matahari dan bulan berada dalam satu garis, gravitasi keduanya saling mempengaruhi bumi, akibatnya terjadi pasang naik (spring tide). Ketika keduanya berada saling tegak lurus (900)dengan bumi, gravitasi keduanya saling menarik air laut ke arah yang berbeda, akibatnya terjadi pasang turun (neap tide).

Rotasi bulan adalah sekitar 4 minggu, sedangkan rotasi bumi adalah sekitar 24 jam. Hal ini menyebabkan terjadinya pasang naik dan pasang turun secara periodik yaitu dengan periode 12, 5 jam. Sifat pasang surut ini dapat dengan mudah diprediksi dan ini berarti energi pasang surut dapat membangkitkan energi dalam waktu yang terdefinisi (dapat dihitung). Periode dari pembangkitan energi dengan tenaga pasang surut ini dapat digunakan sebagai pengganti kerugian energi yang hilang pada pembangkit listrik tenaga lain, seperti tenaga fosil (minyak bumi), atau tenaga nuklir yang bahkan bisa memberikan dampak pada lingkungan. Oleh karena itu, energi pasang surut bisa dijadikan titik awal untuk penggunaan energi terbarukan.

Potensi konversi energi lautan pengganti energi fosil

Saat ini sebagian besar energi yang digunakan rakyat Indonesia berasal dari bahan bakar fosil, yaitu bahan bakar minyak, gas, dan batu bara. Kerugian penggunaan bahan bakar fosil ini selain merusak lingkungan, juga tidak terbarukan (nonrenewable) dan tidak berkelanjutan (unsustainable). Bahan bakar fosil semakin habis dan sebentar lagi Indonesia akan menjadi pengimpor BBM.
Beban kerugian yang ditanggung bangsa Indonesia semakin berkali lipat dengan naiknya harga BBM di pasaran dunia sampai lebih dari 60 dollar AS per barrel. Untuk mengatasi kerugian akibat kenaikan harga BBM tersebut, pemerintah telah melakukan langkah-langkah penghematan dengan cara mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005.
Untuk mendukung kebijaksanaan pemerintah, perlu dilakukan langkah-langkah pencarian sumber-sumber energi alternatif yang ramah lingkungan serta terbarukan. Berdasarkan tempatnya, ada dua sumber energi alternatif, yakni sumber energi alternatif yang berasal dari daratan dan sumber energi yang berasal dari laut. Untuk Jawa yang padat penduduknya, pembangunan fasilitas pembangkit listrik dengan energi alternatif yang berasal dari daratan kemungkinan akan mengalami kendala peruntukan lahan.
Sebagai negara kepulauan yang besar, laut Indonesia menyediakan sumber energi alternatif yang melimpah. Sumber energi itu meliputi sumber energi yang terbarukan dan tak terbarukan. Selain minyak bumi di lepas pantai dan laut dalam, sumber energi yang tak terbarukan yang berasal dari laut dalam di wilayah Indonesia adalah methane hydrate. Methane hydrate adalah senyawa padat campuran antara gas metana dan air yang terbentuk di laut dalam akibat adanya tekanan hidrostatik yang besar dan suhu yang relatif rendah dan konstan di kedalaman lebih dari 1.000 meter.
Sumber energi yang terbarukan dari laut adalah energi gelombang, energi yang timbul akibat perbedaan suhu antara permukaan air dan dasar laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC), energi yang disebabkan oleh perbedaan tinggi permukaan air akibat pasang surut dan energi arus laut.

Susu unta vs susu sapi

Susu unta lebih bergizi dibandingkan dengan susu sapi karena susu itu lebih rendah lemak dan kolesterol, namun lebih kaya potassium, zat besi dan mineral seperti sodium dan magnesium.

Kesimpulan adalah isi dokumen Konferensi Kelima Keselamatan Makanan Internasional di Dubai, yang diselenggarakan 22-25 Februari di Dubai International Convention and Exhibition Center.

Dokumen itu menyebutkan, "Unta adalah bagian penting dalam tradisi dan kebudayaan Arab dan susunya adalah komponen makanan penting di Emirat dan negara lain Arab."

Dokumen berjudul "Standrds for Camel Milk" ini diajukan oleh Fatima AbdulRahman, pemimpin Ahli Mikrobiologi Makanan di Laboratorium Pusat Dubai di Kotapraja Dubai, Uni Emirat Arab (UAE).

"Sekarang, susu unta sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di banyak negara lain," kata Fatima dalam dokumen itu.

"Terdapat 18 juta unta di dunia yang mendukung kelangsungan hidup manusia di daerah setengah tandus," demikian antara lain isi dokumen itu sebagaimana dikutip Kantor Berita Uni Emirat Arab, WAM.(Blez/At/FRR)

Asal-muasal minuman kopi

Dari beberapa literasi yang di dapatkan seperti di buku 40 resep kopi paling favorit oleh Berliana Mahadewi dan 72 resep Iced & Hot Coffee oleh Indriani, maka sejarah kopi ada beberapa macam versi. Dar i beberapa sumber tersebut, bisa di ambil dua versi yang sebenarnya hampir sama yaitu:

Versi Pertama
Sejarah yang pertama ini dimulai dari kisah seorang penggembala kambing yang bernama Kaldi. Cerita ini sangat legendaris yang dimulai sekitar tahun 800 masehi. Di daerah dataran tinggi Ethiopia, penggembala kambing tersebut mengamati kambing gembalaannya yang gemar memakan sejenis buah beri yang akhirnya kambing-kambing tersebut menjadi lebih bersemangat beberapa saat setelah memakan buah tersebut. Kambing-kambing itu tidak mau istirahat maupun tidur pada malam harinya. Akhirnya si Kaldi pun akhirnya penasaran dan mencoba memakan sendiri buah beri tersebut dan hal yang sama seperti kambing-kambing tersebut terjadi pada dirinya.
Pengalaman Kaldi itupun tersebar di biara sekitar tempatnya dan para biarawan akhirnya melakukan percobaan membuat minuman yang berasal dari buah beri tersebut. Minuman yang di hasilkan ternyata mampu membuat mereka terjaga sehingga dapat melakukan aktivitas seperti menulis serta berdoa hingga larut malam. Sampai pada akhirnya cerita pengalaman tersebut menyebar ke seluruh dunia.
Karena masyarakat sudah meyakini biji kopi memiliki khasiat tertentu, maka akhirnya kopi pun menyebar di dataran Eropa. Di Italia, tepatnya di Salerno, kopi di kenal di abad kesepuluh. Pembukaan kedai kopi bernama Botega Delcafe pada tahun 1645 memulai sejarah kopi di benua Eropa. Kedai kopi tersebut menjadi ajang pertemuan dari para cerdik pandai. Sedangkan di kota London, coffe house pertama muncul di George Yard Lombat Street dan di Paris. Pada tahun 1671, kedai kopi pertama di buka di Saint German Fair. Di negera Amerika kopi berkembang menjadi minuman nasional yang menjadi menu utama di meja-meja makan saat pagi.
Sedangkan di Negara kita, Indonesia, kopi pertama kali muncul saat bangsa Belanda menjajah negeri ini. Dari daerah Jawa, Sumatra serta Sulawesi, merekapun berhasil membudidayakan dan menyebarluaskan kopi dari perkebunan di Indonesia. Pedagang dari Arab pun kalah dalam hal efisiensi karena Belanda mampu lebih baik dalam hal menanam, memanen, serta memperdagangkan ke Benua Eropa.
Jenis kopi yang di tanam di Indonesia pertama kali adalah jenis Arabica yang di tanam di timur daerah kawasan Jatinegara dengan menggunakan media tanah partikelir Kesawung yang kini lebih di kenal dengan nama Pondok Kopi.
Di Indonesia sendiri, kopi tersebut juga menyebar ke berbagai daerah seperti Jawa Barat melalui tanam paksa oleh Belanda. Setelah itu menyebar ke daerah-daerah belahan pulau lain seperti Sumatra, Sulawesi, Bali, dan Timur.
Karena penyebarannya yang amat pesat, konon, di Negara Brasil yang dikenal sebagai penghasil kopi terbesar di dunia, bibit yang diperoleh juga di dapat dari daerah Jawa. Seperti Brasil, Negara Indonesia juga pernah mendapatkan prestasi sebagai negara produsen kopi Arabica terbesar di dunia. Namun dikarenakan hama karat daun, prestasi itu tidak bertahan lama. Sisa-sisa tanaman kopi Arabica masih dapat di temui di kantong penghasil kopi di Indonesia. Antara lain di dataran tinggi Ijen- Jawa Timur, tanah tinggi Toraja Sulawesi Selatan hingga lereng bagian atas pegunungan bukit barisan Sumatra, seperti di Mandailing, Lintong, dan Sidikalang di Sumatra Utara lalu di di dataran tinggi Gayo di Daerah Istimewa Aceh.

Versi Kedua
juga mengatakan bahwa kopi berasal dari Ethiopia. Perbedaannya, kopi berasal dari temuan seorang imam yang melakukan percobaan untuk membuat minuman yang di buat dengan cara memanggang dan merebus biji kopi. Kopi tersebut di campurkannya pada minuman hangat yang akhirnya diketahui dapat mengobati rasa kantuk sebelum melaksanakan sembahyang. Karena hal tersebut menjadi kebiasaan masyarakat sekitarnya, minuman yang berasal dari biji kopi pun menyebar dari daerah tersebut.
Invasi orang Ethiopia ke semenanjung Arab dan pendudukan Etiophia di Yaman selama lima puluh tahun menularkan kebiasaan minum kopi di semenanjung Arab. Biji kopi sampai daratan Eropa di sebabkan oleh perdagangan oleh para pedagang VOC. Bangsa Eropa pun akhirnya seakan-akan mempercaya bahwa kopi adalah 'wine' (anggur) nya bangsa Arab yang akhirnya merebaklah kedai-kedai kopi. Pada saat itu, kedai-kedai kopi tersebut sudah menjadi tempat para intelektual untuk lebih leluasa membaca, berdiskusi sambil meminum kopi. Lalu pada akhirnya, istilah 'ngopi' di kedai-kedai kopi pun bisa kita jumpai di seluruh belahan dunia manapun.

Jadi dapat di simpulkan bahwa kopi berasal dari negara timur tengah lalu menyebar ke negara-negara lainnya di seluruh dunia melalui perantara pedagang-pedagang. Disamping itu, kopi menjadi minuman yang paling di gemari di seluruh dunia karena di sebagian besar negara di dunia,'ngopi' atau istilah minum kopi menjadi sebuah tradisi dan kebudayaan baru.

Krisis Energi

Krisis energi telah diprediksikan akan melanda dunia pada tahun 2015. Hal ini dikarenakan semakin langkanya minyak bumi dan semakin meningkatnya permintaan energi. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan untuk memanfaatkan energi lain, selain energi yang tidak terbarukan. Karena kalau kita tergantung pada energi tidak terbarukan, maka di masa depan kita juga akan kesulitan untuk memanfaatkan energi ini karena keterbatasan populasi dari energi tersebut. Untuk itu akan dicoba untuk menggali informasi tentang tenaga ombak yang sebenarnya sudah dimanfaatkan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Norwegia sejak tahun 1987, terlihat bahwa banyak daerah-daerah pantai yang berpotensi sebagai pembangkit listrik bertenaga ombak. Ombak di sepanjang Pantai Selatan Pulau Jawa, di atas Kepala Burung Irian Jaya, dan sebelah barat Pulau Sumatera sangat sesuai untuk menyuplai energi listrik. Kondisi ombak seperti itu tentu sangat menguntungkan, sebab tinggi ombak yang bisa dianggap potensial untuk membangkitkan energi listrik adalah sekitar 1,5 hingga 2 meter, dan gelombang ini tidak pecah hingga sampai di pantai.

Industri Lepas Pantai

a. Pendahuluan
Aktivitas industri lepas pantai (offshore) pertama muncul di tahun 1947 hingga sekarang ini banyak bergerak dibidang eksplorasi dan eksploitasi ladang minyak/gas di lepas pantai. Di tahun 1947 untuk pertarna kalinya anjungan lepas pantai struktur baja terpancang dengan berat 1200 ton yang diinstalasikan di Teluk Mexico pada kedalaman laut 20 feet (6 m).

Perkembangan industri offshore selama ini sangat tergantung dengan perkembangan industri minyak dan gas. Kenaikan harga minyak/gas pada tahun 1973 telah mendorong pertumbuhan industri offshore termasuk usaha mencari ladang-ladang minyak/as baru di perairan yang lebih dalam dengan kondisi laut yang semakin ganas. Dengan demikian, meningkatnya harga minyak dunia dan satu segi telah mendorong bertambahnya aktifitas di lepas pantai, dan tentunya juga bertambahnya kebutuhan bangunan-bangunan laut yang baru. Ladang minyak lepas pantai yang ditemukan di masa mendatang kemungkinan mempunyai kapasitas yang relatif lebih kecil (marginal field) seperti di ladang-ladang minyak/gas di Asia Tenggara, terletak di perairan yang lebih dalam, atau cadangan mineralnya tidak cukup ekonomis bila digali dengan teknologi yang ada. Untuk menghadapi permasalahan mi, bangunan laut yang akan dioperasikan adalah jenis-jenis yang dianggap efektif dan segi biaya, seperti jenis-jenis anjungan apung, anjungan lentur ataupun instalasi bawah laut.


b. Proses Ekplorasi dan Ekploitasi Minyak/Gas di Lepas Pantai

Ada tiga tahap proses eksplorasi dan eksploitasi minyak/gas di lepas pantai, yaitu:
1. Tahap prakiraan (Appraisal)
2. Tahap pengembangan (Development)
3. Tahap produksi (Production)
Tahap prakiraan (appraisal) bertujuan untuk mendapatkan kepastian akan kapasitas ladang minyak/gas, komposisi kimia dan kandungan hidrokarbon dan kondisi lingkungan operasi. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini ialah, pertama, melakukan survey awal batuan baik dengan sistem sonar maupun atas bantuan satelit. Bila dan survey awal ini didapatkan indikasi bahwa kernungkinan ada ladang minyak/gas baru dilakukan pengeboran awal untuk melihat kondisi batuan/soil mechanics, kondisi lingkungan dan untuk memastikan akan ada atau tidaknya minyak/gas di ladang ini. Bila pengeboran awal ini menunjukkan kemungkinan adanya ladang minyak/gas tersebut positif, serta komposisi kimia hidrokarbon yang dikandung telah diketahui baru dilakukan pengeboran sumur untuk melihat kapasitas ladang dan pola penyebarannya. Dan hasil ini orang akan dapat memperkirakan kapasitas produksi per tahun dan ladang yang ada serta melakukan kajian engineering untuk menyiapkan proses pengeboran suinur produksi, proses pengolahannya, pola transportasi produk dan penyimpanan awal. Dan kajian ini akan dihasilkan kajian teknis dan ekonomis kelayakan produksi kandungan minyak/gas tersebut.

Tahap pengembangan (development) merupakan tahap penyiapan dan pembangunan fasilitas yang meliputi: perancangan dan pembangunan fasilitas produksi, struktur pendukung serta sistem transportasi produk/fasilitas, kemudian dilakukan pemasangan dan pengetesan semua sistem.

Proses produksi minyak/gas melalui beberapa tahapan, yakni dan sumur-sumur produksi minyak/gas akan mengalir ke sistem rangkaian pipa (riser) menuju ke anjungan pengepul awal (wellhead platform). Di wellhead platform tersebut minyak/gas dan sumur-sumur yang ada akan dilakukan proses awal pemisahan minyak/gas dan air dan pasir pada wellhead separator. Selanjutnya minyak/gas tersebut diproses lanjut di anjungan produksi (production platform). Dan anjungan produksi minyak/gas yang telah dibersihkan dan kandungan- kandungan yang tidak diinginkan dikirim ke tempat rafinery/pengolahan di darat rnelalui pipa (pipe line) atau dengan tanker. Untuk transportasi dengan tanker umumnya akan membutuhkan tempat penyimpanan sementara (offshore storage) yang dapat berupa berbagai tipe bangunan seperti Single Buoy Storage, (SBS), Catenary Anchor Leg Mooring (CALM), Floating Production and Storage of Oil (FPSO), dll.

c. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh pada Industri Lepas Pantai

Tingkat perkembangan industri lepas pantai (offshore industries) sangat ditentukan oleh berbagi macam faktor, antara lain: permintaan energi, keberhasilan pengeboran, harga minyak/gas, tingkat investasi, kondisi cash flow, tingkat suku bunga (tax regimes), peranan energi alternatif selain minyaklgas, stabilitas politik dan perkembangan ekonomi. Perkembangan ekonomi termasuk perkembangan harga minyak/gas merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan industri offshore. Tingkat pertumbuhan harga minyak sangat ditentukan oleh kondisi ketersediaan-permintaan (supply-demand) minyak/gas di pasaran, dimana negara-negara OPEC merupakan penentu utama sebagai negara pensuplai terbesar kebutuhan minyak dunia.

Akibat peperangan antara negara-negata Arab satu sisi dengan Israel dan Eropa Barat sebagai sekutunya pada tahun 1970-an dengan berakibat penutupan terusan Suez untuk lalu-lintas kapal, telah mendorong kenaikan harga minyak yang cukup drastis dan sekitar 10 $/barel hingga 38 $/barel.

Disamping itu, perkembangan ekonomi juga beperan penting dalam menentukan pertumbuhan industri offshore. Pertumbuhan ekonomi akan juga sangat tergantung dengan pertumbuhan industri pada umumnya, yang berarti juga tergantung dengan kebutuhan akan sumber energi sebagai penggerak industri. Sekarang ini sebagian besar kebutuhan energi dunia disupply oleb minyak sebesar 40 %, batubara 28 %, gas 23 %, sumber energi hidro 3 %. nuklir 6 % dan yang lain 1 %. Ketergantungan pertumbuhan industri masih sangat tergantung dengan ketersediaan minyak/gas sebagai sumber energi industri. Dengan demikian maka perkembangan harga minyak akan sangat berpengaruh besar pada perkembangan industni lepas pantai.

Perkembangan sosial masyarakat serta ilmu pengetahuan juga berpengaruh penting pada pertumbuhan industri offshore. Untuk masa-masa mendatang masalah populasi dan lingkungan merupakan permasalahan penting yang dihadapi oleh masyarakat dunia. Pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1,7 % per tahun sedang untuk negara berkembang sendiri petumbuhan populasi penduduk sekitar 2,5 % per tahun merupakan permasalahan penting yang hams dihadapi sebubungan dengan penyediaan tempat tinggal dan termasuk kebutuhan akan sumber energi yang layak.

Dibandingkan dengan sumber energi altematif lainnya seperti tenaga surya, nuklir dan Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC), unit biaya dan minyak/gas masih lebih murah. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dimasa-masa yang akan datang sumber energi altematif diatas akan semakin tumbuh pernakaiannya sehingga semakin seimbang antara tingkat pemakaian minyak/ gas dan sumber energi altematif yang lain.

d. Perkembangan Aktivitas Industri Offshore
Masyarakat teknologi kelautan dewasa mi sedang berusaha menernukan pasar-pasar baru, yaitu terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan gelombang dan energi panas lautan (OTEC), budi daya perikanan lepas pantai (mariculture), aktivitas industri dengan pabrik-pabrik di lepas pantai, penggalian mineral selain minyak, jembatan terapung dan juga fasilitas rekreasi.

Kecelakaan-kecelakaan katastropis, seperti halnya dengan ‘Herald of Free Enterprise, ‘Exxon Valdez’, ‘Piper Alpha’, dan ‘Scandinavian Star’ telah banyak memberikan kontribusi dalam meningkatkan kepedulian mengenai keselamatan struktur, lingkungan dan hal-hal lain yang menyangkut biaya. Perhatian terhadap kecelakaan katastropis yang berkaitan dengan hilangnya daya apung pada kapal terbuka, serta kebakaran dan ledakan pada kapal-kapal atau anjungan minyak, sebelumnya lebih banyak difokuskan path argumentasi mengenai keselamatan pekerja. Namun demikian, karena dewasa ini kepedulian dunia banyak mengarah pada masalah polusi, maka pembahasan mengenai keselamatan bangunan laut kemudian telah bergeser pada lebih banyak lagi menekankan segi-segi keselamatan lingkungan, seperti OPA’90, MARPOL. 73/78 add. ‘92, ISM Codes, ISO 14000, dll., Salah satu tendensi oleh adanya kepedulian tersebut adalab semakin besarnya kemungkinan kapal tanki minyak di masa mendatang yang dibangun dengan konfigurasi kulit ganda (double skin atau double hulls).

e. Peranan Intitusi Nasional dan Internasional

i. Pemilik/Owner
Pemilik anjungan/unit dapat perorangan, organisasi atau konsorsium. Pemilik tidak selalu yang mernakai atau yang mengoperasikan bangunan tersebut, seperti PT. PANN FINANCE sebagai pemilik kapal Caraka Jaya dan Palindo Pax 500, tetapi sebagai operatomya adalah perusahaan pelayaran (PELNI, Meratus, dll).

ii. Pemakai/Operator
Operator anjungan lepas pantai umumnya adalali perusahaan minyak atau perusahaan jasa dibidang perminyakan, seperti PERTAMINA, SHELL, BP-ARCO, CONOCO. Santa Fe, Mobile Oil, Texaco, Unocal, Amoses, dll. Tuntutan operator terhadap anjungan meliputi: Fungsionalitas (kesesuaian struktur terhadap operasi), kebutuhan anjungan terhadap infrastruktur dun logistik, keselamatan jiwa manusia, investasi, operasi dan lingkungan.

iii. Kontraktor/Galangan
Kontraktor adalah instansi yang membangun dan menyiapkan keberadaan anjungan beserta fasilitasnya, maka kontraktor mempunyai kepentingan tcrhadap aspek:

metoda pembangunan struktur (buildmethod), kesesuaian dengan kapasitas dan fasilitas (buildfriendly), kemudahan mendapatkan material dan peralatan. Contoh kontraktor: Guna Nusa Fabricator, Bukaka, Tn Patra, PT. PAL, DKB, Sembawang Shipyard, IHI, Marathon, Welton Feyenoord, Santa Fe, McDermott, dll.

iv. Biro Klasifikasi
Peranan Biro Kiasifikasi secara umum penyediaan jasa untuk kepentingan pihak-pihak yang terkait (pemilik, pemerintah, asuransi, bank, dll) didunia kemaritiman/kelautan dengan penilaian tenting kondisi teknis bangunan maritim (kapal, offshore) untuk tercapainya tingkat keselamatan di laut, baik manusia, barang dan pencemaran Iingkungan. Untuk itu, sertifikat klas yang dikeluarkan oleh biro kiasifikasi disini berperan penting dalam menentukan kelaikan bangunan maritim. Selain ditentukan oleh sertifikat ini, kelaikan bangunan laut masih ditentukan oleh sertifikat statutoria yang dikeluarkan oleh badan inteniasional (IMO) atau biro kiasifikasi atau oragnisasi profesi yang teiah mendapat mandat dan pemerintah/negara bendera. Disamping kegiatan resmi diatas, biro klasifikasi juga dapat berperan sebagai konsultan engineering dan badan riset. Contoh Biro Kiasifikasi: Lloyd Register of Shipping (LR), American Bureau of Shipping (ABS), Oct norske Veritas (DnV), Gennanischer Lloyd (GL), BureauVeritas (BV), Nippon Kaiji Kyokai (NKK), Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

v. Institusi Internasional
Institusi intemasional biasanya berperan sebagai penasihat. lnstitusi intemasional juga berwenang mengeluarkan sertifikat tentang kelaikan sesuatu aktivitas, yang sering disebut sebagai sertifikat statutoria. Sertifikat statutoria dalam bidang maritim dikeluarkan biasanya oieh international Maritime Organization (IMO). Hal ini tertuang dalarn SOLAS (safety of life at sea) untuk keselamatan operasi di laut tertutama keselamatan rnanusianya, MARPOL (Marine Polution) untuk mencegah pencemaran laut, International Safety Management Codes (ISM Codes) untuk managemen keselamatan operasi bangunan maritim dan pencegahan pencemaran (disahkan oleh IMO), ISO 9000 untuk managemen kendali mutu, ISO 14000 utuk managemen pengendalian pencernaran, dll.

vi. Institusi Nasional
Tujuan awal dan aturan yang dikeluarkan oleh institusi nasional untuk melindungi kepentingan nasional (negara maupun konsumen) di negara seternpat. Akan tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan aturan tersebut diadopsi dan diakui berlakunya oleb negara lain. Yang tergolong sebagai institusi nasional seperti Departemen Migas yang mengeluarkan aturan yang ada hubungannya dengan aktivitas pertambangan di Indonesia, Departemen Perindustrian yang mengeluarkan SNI (Standar Nasional Indonesia), American National Standard Institute (ANSI), Deutches Institut fur Normung (DIN) untuk bidang industri dan perdagangan, British Standard Institution (BSI), dlsb.

vii. Organisasi Profesi
Organisasi profesi juga sering mengeluarkan dan mengembangkan aturan yang berlaku pada perancangan atau kendali mutu operasi dan fabrikasi di berbagai macam aktivitas. Aturan yang dikeluarkan biasanya meliputi bidang-bidang khusus, seperli material, pengelasan, listrik, dish. Sebagai contoh organisasi profesi ialah American Welding Society (AWS) untuk teknologi pengelasan, American Society for Testing Materials (ASTM) untuk teknologi material, American Society of Mechnical Engineers (ASME) untuk teknologi produksi dan manufacturing, American Petroleum Institute (API) untuk industri perminyakan, Japanese Industrial Standarad (JIS) untuk bidang industri dan produk mineral, dlsb.

viii. Institusi Ahli ( Waranty Surveyor)
Sebagai contoh disini ialah Noble Denton & Associates yang bergerak atas nama suatu jasa asuransi untuk mengawasi transportasi suatu bangunan laut dan kesesuaian operasi bangunan laut di suatu lokasi. P&I club suatu organisasi jasa asuransi yang mengurusi masalah klaim asuransi dan kecelakaan bangunan maritim.

(Sumber: Murdjito, M.Sc. Eng dosen Kelautan ITS)

Saturday, February 27, 2010

Tension Leg Platform (TLP)


A type of floating production system, tension leg platforms (TLPs) are buoyant production facilities vertically moored to the seafloor by tendons.

TLP Design

While a buoyant hull supports the platform's topsides, an intricate mooring system keeps the TLP in place. The buoyancy of the facility's hull offsets the weight of the platform, requiring clusters of tight tendons, or tension legs, to secure the structure to the foundation on the seabed. The foundation is then kept stationary by piles driven into the seabed.

The tension leg mooring system allows for horizontal movement with wave disturbances, but does not permit vertical, or bobbing, movement, which makes TLPs a popular choice for stability, such as in the hurricane-prone Gulf of Mexico.

The basic design of a TLP includes four air-filled columns forming a square. These columns are supported and connected by pontoons, similar to the design of a semisubmersible production platform. Nonetheless, since their inception in the mid 1980s, TLP designs have changed according to development requirements. Now, designs also comprise the E-TLP, which includes a ring pontoon connecting the four air-filled columns; the Moses TLP, which centralizes the four-column hull; and the SeaStar TLP, which includes only one central column for a hull.

The platform deck is located atop the hull of the TLP. The topside of a TLP is the same as a typical production platform, consisting of a deck that houses the drilling and production equipment, as well as the power module and the living quarters. Dry tree wells are common on TLPs because of the lessened vertical movement on the platforms.

Most wells producing to TLPs are developed through rigid risers, which lift the hydrocarbons from the seafloor to dry trees located on the TLP deck. Many times, steel catenary risers are also used to tie-in the subsea flowlines and export pipelines.

TLP Types

The third-most used type of floating production facility in the world, TLPs are ideal for a broad range of water depths. Currently, there are three different types of TLPs: full-size TLPs, mini TLPs and wellhead TLPs.

Friday, February 12, 2010

Anjungan Lepas Pantai Laut Dalam Indonesia

Jika kita terbang melintasi perairan laut Utara Jawa atau perairan sekitar Balikpapan, maka kita dapat menyaksikan beberapa bangunan yang berdiri di tengah lautan. Dan jika kita coba amati lebih cermat, maka samar-samar akan nampak oleh kita bentuk derek-derek ataupun bangunan akomodasi di bagian atasnya. Bangunan-bangunan seperti itulah yang disebut sebagai anjungan/bangunan lepas pantai (offshore platform/structure) yang digunakan untuk aktivitas eksploitasi minyak atau gas bumi di daerah lepas pantai (offshore region), baik untuk pengeboran (drilling platform) maupun aktivitas produksi (production platform). Kata offshore yang berarti
lepas pantai (jauh dari pantai) digunakan sebagai lawan kata dari onshore yang berarti daerah pantai. Di dalam kelompoknya, jenis bangunan ini cuma salah satu dari wahana laut secara umum, seperti misalnya kapal sebagai alat transportasi di lautan dan beberapa modifikasi dari jenis kapal dengan peruntukan lain --misalnya kapal pembor (drilling ship). Lalu mengapa harus di tengah lautan, tidak di darat saja? Ya, karena jelas bahwa reservoir minyak atau gas bumi tidak hanya diciptakan Allah SWT di daratan saja, tapi juga dilautan, bahkan tidak sedikit yang berada di dasar lautan yang sangat dalam. Lagi pula semakin hari cadangan minyak yang berada di daratan makin berkurang kapasitasnya sehingga memaksa manusia untuk mencari cadangan yang baru walaupun harus di tengah lautan.
Tulisan ini akan mencoba mengenalkan sedikit lebih jauh tentang salah satu jenis struktur lepas pantai yang performansinya sangat baik untuk dioperasikan di perairan/laut dalam (deep water). Juga akan disampaikan sekilas tentang perkembangannya di Indonesia yang saat ini sudah mulai memasuki era teknologi laut-dalam bagi industri lepas-pantainya.

Sekilas tentang Tension Leg Platform (TLP) Struktur)


A Tension Leg Platform (TLP) is a buoyant platform held in place by a mooring system. Sebuah Tension Leg Platform (TLP) adalah sebuah platform apung ditahan oleh sebuah sistem mooring. The TLP's are similar to conventional fixed platforms except that the platform is maintained on location through the use of moorings held in tension by the buoyancy of the hull. The TLP itu mirip dengan platform konvensional tetap kecuali bahwa platform dipertahankan di lokasi melalui penggunaan tambatan diselenggarakan dalam ketegangan oleh daya apung dari lambung. The mooring system is a set of tension legs or tendons attached to the platform and connected to a template or foundation on the seafloor. Sistem yang tambatan adalah serangkaian ketegangan kaki atau tendon melekat pada platform dan terhubung ke template atau yayasan di dasar laut. The template is held in place by piles driven into the seafloor. Template diadakan di tempat oleh tumpukan didorong ke dasar laut. This method dampens the vertical motions of the platform, but allows for horizontal movements. Metode ini mengimbangi gerakan vertikal dari platform, tapi memungkinkan untuk gerakan horisontal. The topside facilities (processing facilities, pipelines, and surface trees) of the TLP and most of the daily operations are the same as for a conventional platform. The dek fasilitas (fasilitas pengolahan, jaringan pipa, dan permukaan pohon) dari TLP dan sebagian besar operasi sehari-hari adalah sama seperti untuk platform konvensional.



Template menyediakan kerangka dasar laut di mana untuk memasukkan baik konduktor atau tumpukan. Not all TLP's use templates; if used, they are typically the first equipment installed at the site. Tidak semua TLP's menggunakan template; jika digunakan, mereka biasanya peralatan pertama yang dipasang di situs. There are several types of templates that may be used in conjunction with a TLP to support drilling, foundation integrity, or the integration of the two. Ada beberapa jenis template yang dapat digunakan bersama dengan TLP untuk mendukung pengeboran, yayasan integritas, atau integrasi dari keduanya. Drilling templates provide a guide for locating and drilling wells; they may also be a base for the tie-in of flowlines from satellite wells or for export pipelines and their risers. Pengeboran template menyediakan panduan untuk mencari dan mengebor sumur, mereka mungkin juga akan menjadi basis bagi dasi-in flowlines dari satelit untuk ekspor sumur atau pipa dan anak tangga mereka. Foundation templates may be one single piece or separate pieces for each corner. Yayasan template mungkin satu bagian atau potongan-potongan yang terpisah untuk setiap sudut. The foundation piles are driven through the foundation template. Yayasan tumpukan digerakkan melalui yayasan template. An integrated template is a single piece that contains all drilling support, anchors the tendons, and locates and guides the foundation piles. Terintegrasi template adalah satu bagian yang berisi semua dukungan pengeboran, jangkar tendon, dan menempatkan dan membimbing dasar tumpukan. Separate templates allow each part to be installed individually. Pisahkan template mengizinkan masing-masing bagian yang akan diinstal secara individual. They also use smaller pieces that weigh less and are easier to install. Mereka juga menggunakan potongan-potongan kecil yang beratnya kurang dan lebih mudah untuk menginstal. The drilling template can be installed and drilling can begin while the foundation template is being designed and built. Pengeboran template dapat diinstal dan pengeboran dapat mulai saat template yayasan sedang dirancang dan dibangun.

Ketegangan Kaki (tendon) adalah aman tubulars bahwa lambung ke yayasan; ini adalah sistem tambatan untuk TLP. Tendons are typically steel tubes with dimensions of 2-3 ft in diameter with up to 3 inches of wall thickness, the length depending on water depth. Tendon biasanya tabung baja dengan dimensi 2-3 ft dengan diameter sampai 3 inci dari ketebalan dinding, panjang tergantung pada kedalaman air. A typical TLP would be installed with as many as 16 tendons. TLP tipikal akan diinstal dengan sebanyak 16 urat.

A production riser conveys produced fluids from the well to the TLP surface production facilities. Sebuah menyampaikan bangun dari tidur produksi cairan yang dihasilkan dari sumur ke permukaan TLP fasilitas produksi. An example riser system for a TLP could be either a single-bore or dual-bore (concentric pipe) arrangement. Contoh sistem bangun dari tidur untuk TLP dapat berupa satu-membosankan atau dual-menanggung (konsentris pipa) pengaturan. The dual-bore riser would consist of a 21-inch, low pressure (eg, 3,000 psi) marine riser that serves as an environmental barrier, and an 11 ¾-inch inner pipe (casing) that is rated for high pressures (eg, 10,000 psi). Melahirkan ganda-bangun dari tidur akan terdiri dari 21-inci, tekanan rendah (misalnya, 3.000 psi) laut yg bangun dari tidur yang berfungsi sebagai penghalang lingkungan, dan 11 inci batin ¾-pipa (casing) yang diberi tekanan tinggi (misalnya, 10.000 psi).

Hull dan dek modul terintegrasi pada Ingleside, Texas. A shore-based specialized lifting device (SLD) was used to place the modules on the hull. Sebuah pantai berbasis perangkat mengangkat khusus (SLD) digunakan untuk menempatkan modul pada lambung. The SLD is a one-of-a-kind, land-based, twin boom-lifting device built for this purpose. The SLD adalah satu-of-a-kind, berbasis darat, kembar boom-perangkat mengangkat dibangun untuk tujuan ini. Its lifting capacity is 4,000 short tons. Dengan kapasitas angkat pendek 4.000 ton. Each lift involved positioning the hull so that the module package barge could be positioned under the SLD to connect the lift rigging. Setiap mengangkat posisi terlibat lambung sehingga paket modul tongkang dapat diposisikan di bawah SLD untuk menyambung tali-temali lift. The package was lifted 150 ft in the air (this took about 3 hours), and the hull was positioned under the package and secured. Paket diangkat 150 ft di udara (ini memakan waktu sekitar 3 jam), dan lambung itu diposisikan di bawah paket dan diamankan. The module weight was transferred to the hull. Berat modul dipindahkan ke lambung. Each lift operation took 8 to 12 hours. Setiap mengangkat Operasi itu 8-12 jam.

Recent Comments-