Saturday, January 2, 2010

Perdagangan Bebas 2010

Produk Indonesia terancam bangkrut jika perdagangan bebas dengan Cina jadi diterapkan pada 2010. Sekarang saja, ketika produk Cina masih dikenakan bea masuk lima persen, harga barang dari negara Tirai Bambu itu masih lebih murah dibanding produk dalam negeri.

Lihat saja berbagai jenis mainan, barang elektronik, sampai tekstil yang sebagian besar diimpor dari Cina yang harganya lebih murah dibanding produk lokal dan membuat industri dalam negeri kelimpungan. Jika sesuai rencana, tahun depan akan dimulai perdagangan bebas dengan Cina yang artinya produk negara itu bisa masuk dengan bea nol persen.

Pengusaha melihat hal tersebut tak sekadar ancaman, karena saat ini saja industri tekstil sudah defisit lebih dari US$ 520 juta. Dan jika bea masuk menjadi nol persen, industri lokal tak bisa bersaing dan bukan tak mungkin terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran.


Perdagangan Bebas Dengan China 2010, Akan Bangkrutkah Industri Nasional ?

Tinggal beberapa hari lagi 2010 akan segera tiba, namun adakah harapan yang lebih baik bagi negeri ini dibanding 2009 dan tahun-tahun sebelumnya ? Apakah pemerintahan KIB-II dapat menjawab tantangan ini ? Apakah SBY mampu menjadi seorang dirigen yang baik untuk mengharmonisasikan semua instrument yang diperankan oleh para pembantunya ? Jawabannya cuma ya atau tidak.

Kita lihat indikasi dari sektor industri saja, bahwa rencana pemberlakuan perdagangan bebas (Free Trade Agreement) Asean-China diawal tahun 2010, merupakan ancaman yang serius, karena ketidaksiapan industri nasional. Penurunan tarif bea masuk sejak 2005 secara bertahap hingga penghapusan tarif nol persen pada 2010, merupakan awal hancurnya industri nasional. Apa pasal ? karena pada saat ini saja dengan bea masuk 5%, industri nasional sudah mulai banyak yang gulung tikar, karena harga-harga produk China (alat elektronik, tekstil, mnufaktur dll) jauh lebih murah dibanding produk nasional.

Kalaupun ada permintaan dari para pengusaha nasional untuk menunda penghapusan bea masuk ini, prosesnya akan sulit dan lama, sementara perdagangan bebas antara Asean-China ini sudah berlangsung selama lima tahun ini, dan sulit untuk membatalkan kesepakatan yang sudah dibuat, karena ini bukan hanya Indonesia saja, tapi juga menyangkut sekian negara lain Asean, past i ada yang dirugikan kalau Indonesia ajukan penundaan.

Dalam konsep pasar bebas yang membuka pintu impor dengan menghapus tarif bea masuk, pada akhirnya memang akan menguntungkan konsumen. Dengan menghapus proteksi berupa tarif bea masuk, konsumen di setiap negara akan memiliki semakin banyak pilihan produk untuk memenuhi kebutuhannya pada harga yang semakin kompetitif dengan kualitas produk yang lebih baik. Pesimisme para pengusaha nasional dapat difahami karena apa pun trade off (imbal balik) yang diberikan China dalam perjanjian itu, tetap saja industri domestik tak mampu mengalahkan kekuatan China di kancah perdagangan.

Dengan beberapa fakta tersebut akankah industri nasional kita sanggup menghadapi tantangan ini, bahkan dapat memacu semakin bersaing dengan produk China atau negara-negara lain Asean ? Nampaknya sangat sulit, Atau malah sebaliknya, perjanjian itu justru menjadi genderang kebangkrutan bagi industri nasional ?

0 komentar:

Post a Comment

0 people have left comments

Commentors on this Post-

Recent Comments-